Kesenian Srandul Sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia

Berita

Kesenian Srandul adalah salah satu dari warisan budaya Takbenda Indonesia dari Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, yang telah mendapatkan penetapan sejak tahun 2017  dan masuk dalam domain Adat Istiadat Masyarakat, Ritus dan Perayaan-Perayaan, jika mengacu pada konvensi UNESCO Tahun 2003 Convention for the safeguarding of Intangible Cultural Heritage, yang telah disahkan melalui Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2007 tentang pengesahan Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage.

Warisan Budaya Takbenda Indonesia menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 106 Tahun 2013 tentang Warisan Budaya Takbenda Indonesia adalah, berbagai hasil praktek, perwujudan, ekspresi pengetahuan dan keterampilan, yang terkait dengan lingkup budaya, yang diwariskan dari generasi kegenerasi secara terus menerus melalui pelestarian dan/atau penciptaan kembali serta merupakan hasil kebudayaan yang berwujud budaya takbenda setelah melalui proses penetapan Budaya Takbenda.

Kesenian Srandul termasuk jenis drama dan merupakan seni tradisional kerakyatan yang bersumber dari masyarakat. Srandul merupakan tari kelompok, garapan sebuah tari sederhana, karena berupa karya seni turun-temurun sebagai karya kolektif. Srandul biasanya dimainkan oleh 15 orang, 6 pemusik dan 9 pemain, namum jumlah pemain ini amat fleksibel.

Cerita yang biasanya dipentaskan berbeda antara daerah yang satu dengan yang lain. Di daerah tertentu cerita yang dimainkan adalah ceritera rakyat yang tidak terbatas pada kisah tokoh, di daerah lainnya hanya mementaskan cerita rakyat dengan tokoh Dadung Awuk saja, sehingga hampir sama dengan kesenian Dadung Awuk. Ada yang berupa drama tari yang disajikan dengan cerita karangan atau cerita rakyat, misalnya Demang Cokroyuda dan Prawan Sunthi. Alat-alat musik yang dipergunakan dalam kesenian srandul adalah angklung, terbang dan kendang.

Leave a Reply