Breaking News

Upacara Adat Ki Ageng Wonolelo

  • home //
  • Upacara Adat Ki Ageng Wonolelo
Post Image
Dekhi 4 November,2019

Upacara Adat Ki Ageng Wonolelo

Dilaksanakan pada malam Jumat (Kamis malam) setiap bulan Sapar minggu ke-1. Keluarga trah Ki Ageng Wonolelo diakhiri dengan pembagian kue apem di makam. Menurut kepercayaan masyarakat, jika memperoleh dan makan kue apem yang dibagikan maka yang bersangkutan akan awet muda, bebas dari penyakit dan dapat menolak hama tanaman bagi petani.

makna nilai‑nilai luhur yang terkandung adalah ketauladanan, kebersamaan. Untuk lebih jelasnya ikuti uraian dibawah ini.

Nilai luhur ketauladanan

Dalam pelaksanaan upacara adat ini memberikan gambaran dan wawasan mengenai perjuanagn dan mengenang kembali leluhur yang menurunkan mereka, terutama keturunan Ki Ageng Wonolelo. Dismping itu juga mengenang jasa dan kebesaran Ki Ageng Wonolelo sebagai penyebar agama Islam. Ketauladanan Ki Ageng Wonolelo dalam mengupayakan kesejahteraan masyarakat dengan pembangunan dusun Wonolelo.

Nilai luhur kebersamaan dan kekerabatan

Bahwa dalam pelaksanaan upacara adat dilakukan secara bersama‑sama tidak mengenal dan memandang pada agama maupun pranata sosial. Apalagi keturunan Ki Ageng Wonolelo yang tergabung dalam organisasi kelompok kekerabatan trah Ki Ageng Wonolelo. Antara trah Ki Ageng Wonolelo dan masyarakat secara bersama‑sama mewujudkan pelaksanaan upacara dengan mengoptimalkan kekuatan, kemampuan dan potensi desa.

Nilai luhur kedermawanan

Ki Ageng wonolelo mempunyai kebiasaari membantu, memberi dan menolong sesamanya, terlihat dari seluruh perjuangan awal sampai tercipta dusun wonolelo menjadi subur, makmur, gemah ripah dan loh jinawi tidak menmgharapkan akan kembah kepada dirinya “Lilo Legowo, welas ash, kanggo kamulyaning sesami”.

Tokoh upacara Wonolelo, Sunggono.

Hal‑hal yang diwariskan oleh dusun pondok Wonolelo , bahwa pada waktu itu Syech Jumadigeno mash ikut kedua orang tuanya di dusun Turgo apabila Ki Jumadigeno melihat ke arah tenggara tampak adanya “wono” (hutan) yang “maliio” Gelas). Kemudian Ki Jumadigeno dating dan membuka hutan (babat alas). Setelah selesai maka Ki Jumadigeno menetap dan tinggal di bekas alas tersebut dengan nama wonolelo dan Ki Jumadigeno mengubah namanya menjadi Ki Ageng Wonolelo. Ditempat itu Ki Ageng Wonolelo mulai menyebarkan Agama Islam, karena dengan banyaknya santri, maka Ki Ageng Wonolelo mendirikan Pondok, sehingga dusun tersebut terkenal dengan Dusun Pondok Wonolelo.

Desa Pondok, Wonolelo, Widodomartani, Ngemplak, Sleman