Breaking News

Upacara Adat Suran Mbah Demang

  • home //
  • Upacara Adat Suran Mbah Demang
Post Image
Dekhi 4 November,2019

Upacara Adat Suran Mbah Demang

Suatu upacara adat untuk memperingati perjuangan Demang Cokro Dikromo dalam usaha mensejahterakan masyarakat di wilayahnya. Diselenggarakan di dusun Modinan, Banyuraden, Gamping setiap tanggal 7 Suro (bulan Jawa). Pada puncak acara diadakan pengambilan air dari sumur peninggalan Ki Demang yang digunakan untuk cuci muka atau mandi dan oleh masyarakat dipercaya sebagai air bertuah.
makna nilai‑nilai luhur yang terkandung adalah kesetiaan dan ketokohan untuk mengenang jasa cokrodikromo.Selain itu nilai‑nilai yang terkandung yaitu :
a. Nilai luhur perjuangan hidup Ki Demang Cokrodikromo, perjuangan Ki Demang Cokrodikromo semenjak mash usia anak‑anak, dengan laku prihatin untuk mendapatkan kepercayaan menjadi mandor dan demang. Mengemban amanat untuk mensejahterakan warganya, memberikan lapangan pekerjaan dan lain sebagainya.
b. Nilai luhur kepemimpinan Ki Demang Cokrodikromo, wujud kepemimpinan Ki Demang Cokrodikromo semenjak dipercayai menjaga keamanan dan memberantas kejahatan yang mengganggu perkebunan tebu diwilayahnya. Dengan sifat andap asor, lembah manah dan pengayom warga sekitarnya.
c. Nilai luhur welas asih (dermawan, suka memberi) Ki Demang Cokrodikromo mempunyai kebiasaan suka memberi dan membagi dana dan harta benda. Kebiasaan ini diwujudkan suka menjamun para tamu yang datang ke rumahnya dengan kendi Ijo dan membagi uang kepada setiap orang yang dijumpai pada waktu menjaga perkebunan tebu.
d. Nilai luhur karismatik Ki Demang Cokrodikromo selalu disegani terhadap semua musuh dan dihormati oleh warga masyarakat. Kesederhanaan dalam pola kehidupan sehari‑harinya.
e. Tokoh suran mbah demang bernama Murdiyanto.
Adapun hal‑hal yang diwariskan yaitu untuk mengenang peristiwa yang pernah terjadi perjuangan hidup Ki Demang Cokrodikromo seorang demang yang diangkat oleh Belanda untuk mengawasi perkebunan tebu milik Belanda. Demang cokrodikromo adalah seorang pertapa dan banyak melaksanakan laku prihatin, salah satunya yang dijalaninya yaitu mandi hanya setiap setahun sekali yaitu pada tanggal 7 sura pada saat tengah malam. Bukan berarti setiap harinya tidak mandi, melainkan mandi yang disertai maksud tertentu yaitu mandi untuk mensucikan lahir dan batinnya, sehingga orang disekitar Modinan dan umumnya Gamping bahwa Ki Demang Cokrodikromo mempunyai kernampuan lebih (daya linuwih), sehingga keturunan dari Ki Demang dan warga sekitar mengikuti jejaknya dengan ngalap berkah dari sumber air yang dulu digunakan mandi Ki Demang Cokorodikromo.